Stefer Rahardian yang Memilih Jalur Petarung Bela Diri Campuran untuk Harumkan Indonesia

IndonesiaBetter- 19 Januari 2019 bisa jadi merupakan hari yang ingin dilupakan oleh Stefer Rahardian. Pada tanggal tersebut ia harus menelan kekalahan ketiganya secara beruntun dalam ajang turnamen bela diri campuran atau yang lebih populer dikenal dengan nama MMA (Mixed Martial Art) ONE Championship Eternal Glory.

Ajang ONE Championship ini merupakan ajang kompetisi bela diri campuran asal Singapura yang banyak mengorbitkan talenta-talenta MMA dari Asia khususnya Asia Tenggara

Baginya tidak ada yang lebih membuatnya pening daripada kegagalan meraih kemenangan secara beruntun di turnamen yang diadakan di negaranya sendiri, Indonesia. Sebelumnya Stefer Rahardian juga harus mengakui kekalahan dari Rene Catalan dan Peng Xue Wen di ajang ONE Championship sebelumnya.

Padahal ia mengakui sudah berlatih dari nol dengan mengasah kembali teknik-teknik dasar dan belajar meningkatkan agresivitas. Meski begitu sosok Stefer Rahardian tetap menjadi sosok panutan bagi dunia Bela Diri Campuran di Indonesia. Perjuangannya hingga mencapai status sebagai salah satu petarung hebat sangat tidak mudah, Ia sempat nyaris menggantung handuk lantaran pernah mengalami cedera yang diperparah dengan operasi penyembuhan yang gagal.

Dimulai dari Gang Sempit

Stefer Rahardian lahir dan besar di sebuah gang sempit di  Jakarta Pusat dengan kenyataan hidup tanpa Ayah sejak usianya 5 tahun karena perceraian dengan sang Ibu. Belum lagi kematian sang kakak memperberat langkah hidupnya.

Lingkungan tempatnya dibesarkan juga memberikan cerita pahit berupa perundungan yang kerap ia alami dari teman-teman sekolahnya karena badannya yang dianggap sangat kecil. Selain itu intimidasi terhadap mentalnya juga datang dari maraknya pemuda-pemudi yang akrab dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Namun semangatnya untuk berubah dapat membuatnya melalui hal-hal tersebut. Stefer kecil berpendapat bahwa menantang balik berkelahi orang-orang yang selama ini mengganggunya akan menjadi titik balik bagi kehidupannya.

Namun tidak seperti cerita para petarung MMA yang menemukan jalannya dari pengalaman dirundung anak lain, Stefer justru tidak sengaja menemukan jalan menjadi petarung MMA melalui sebuah ajakan seorang teman.

Singkat cerita, sang teman mengajak Stefer melihat-melihat latihan tarung olahraga bela diri Jiu-jutsu, dari situlah Stefer mengaku ketagihan nikmatnya menyelami olahraga bela diri. Ia pun mulai penasaran untuk menjalani kompetisi sungguhan untuk merasakan nikmatnya sebuah kemenangan. Untuk mencapai hal tersebut, ia harus pandai-pandai menabung untuk dapat menyewa seorang pelatih dan menyelami kemacetan ibukota untuk sampai di tempat latihan.

Naas Cedera Stefer

Baru bisa mendapatkan juara kedua dalam percobaan turnamen keempatnya, naas harus dialami oleh Stefer. Stefer mengalami cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) akibat latihan intensif dengan partner sparing-nya. Ia harus pasrah menerima nasib menepi dari dunia bela diri campuran dan hidup dengan tabungan hingga masa pemulihan selesai.

Sialnya, setelah berhasil menjalani operasi dengan dana pinjaman dari sasana tempatnya berlatih ternyata operasinya mengalami kegagalan. Ia pun harus terus meminjam dana untuk memperbaiki kegagalan operasinya dan berada di ambang karirnya. Namun nasibnya kembali ke jalur harapan setelah berhasil bertemu dengan Andrew Leone, petarung bela diri campuran kawakan pada tahun 2013 dalam sebuah acara workshop muay thay di Jakarta.

Prestasi Stefer dan Keinginannya bagi Indonesia

Stefer pun mantap kembali ke ring oktagon, sebutan untuk ring bela diri campuran. Ia berhasil meraih kemenangan-kemenangan penting hingga dilirik untuk masuk ke dalam ONE Championship pada 2015 silam. Ia pun mullai diperhitungkan ketika berhasil meraih lima kemenangan beruntun melawan nama-nama yang lebih kawakan seperti Jerome Paye hingga Muhhamad Imran. Ia pun digadang-gadang sebagai calon petarung hebat.

Meski kenyataan berakhir tidak mulus karena harus mengalami rentetan kekalahan sejak kemenangan kelimanya secara beruntun. Stefer tetap merupakan salah satu panutan dalam perjalanan olahraga ini di Indonesia. Stefer secara gamblang mengajak anak-anak Indonesia untuk masuk ke dalam dunia Bela Diri Campuran.

Ia mengaku bahwa masa depan olahraga ini akan cemerlang. Selain itu ia juga berusaha untuk mengharumkan nama Indonesia bersamaan dengan meroketnya olahraga ini. Maklum secara global, olahraga ini masih dikuasai petarung-petarung dari Brasil dan Amerika Serikat.

Indonesia pun masih harus bersaing dengan Filipina dan Jepang di regional Asia. Namun Stefer yakin dirinya dapat menjadi inspirasi bagi calon petarung lain. Dirinya mengakui senang bisa menghibur penonton dan menikmati momen kemenangan setiap detiknya di dalam ring.

Informasi dan Gambar diambil dari berbagai sumber di Internet

Editor: Weliam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *