Pedesaan Sukses Jalankan Program Desa Nabung Saham

IndonesiaBetter- Saham atau tanda kepemilikan suatu perusahaan persero biasanya identik dengan investasi yang dilakukan oleh kalangan menengah keatas di perkotaan, dimana tingkat imbal balik dan tingkat resiko yang sama-sama besar ini memang mensyaratkan para pelakunya menyediakan dana dalam jumlah yang besar serta pembacaan yang teliti terhadap perkembangan harga.

Stereotipe itulah yang berusaha dikikis oleh Bursa Efek Indonesia yang bertekad menjadikan pasar modal menjadi ranah yang lebih inklusif. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke 40 berdirinya pasar modal Indonesia, Bursa Efek Indonesia bersama dengan Bank Rakyat Indonesia meluncurkan program Desa Menabung Saham (DNS) pada 2017 yang lalu.

Program ini merupakan kelanjutan dari road map BEI untuk membuat bursa saham lebih terbuka setelah meluncurkan program milenial menabung saham pada beberapa waktu lalu. Hingga kini program desa menabung saham ini telah berhasil melahirkan dua desa percontohan yang sukses, masing-masing yaitu desa Argo Mulyo di Kalimantan Timur dan desa Sidorejo di Lampung.

Desa Argo Mulyo

Desa Argo Mulyo , Penajam Paser Utara ini boleh jadi bukanlah desa yang terhitung sebagai desa yang maju atau desa yang diberkahi dengan sumber daya alam melimpah, namun desa berpenduduk sekitar 1.200 Kepala Keluarga  ini menjadi desa pertama yang diplih BEI untuk mendapat sosialisasi mengenai pengenalan menabung saham.

Tepat pada tanggal 7 Agustus 2017, beberapa penyuluh dari Bursa Efek Indonesia dan beberapa perusahaan sekuritas memberikan pembelajaran materi pertamanya untuk para penduduk desa. Pada setiap kegiatan penyuluhan materi, para penyuluh selalu menekankan bahwa warga desa bisa menjadi pemilik perusahaan dengan menabung saham. Selain itu warga desa yang kebanyakan merupakan peserta transmigrasi ini juga diajarkan langsung teknis cara bertransaksi saham, memilih saham yang baik, hingga mengelola rekening dana.

Kegiatan penyuluhan ini sendiri bukan hal yang mudah bagi para penyuluh, selain karena lamanya perjalanan menembus hutan bisa mencapai durasi 2,5 jam, mereka juga harus bersaing dengan para perusahaan investasi “abal” yang juga sering menyasar warga desa. Namun hasilnya tidak sia-sia, hingga kini tercatat sekitar 500 Kepala Keluarga telah terdaftar sebagai pemilik saham-saham. Rata-rata saham yang dipegang oleh para warga terhitung merupakan saham blue chip atau saham elite, termasuk diantaranya merupakan saham dari perusahaan BUMN PT.Bukit Asam, Kalbe Farma hingga PT.Telkom Indonesia. Kini desa Argo Mulyo mencoba menularkan ilmu investasi saham mereka ke desa-desa terdekat di kecamatan.

Desa Sidorejo

Desa Sidorejo menjadi desa kedua yang mendapat pelatihan mengenai investasi saham dengan penyuluh utama berasal dari tim innovator desa. Lagi-lagi alasannya identik yaitu banyak warga yang jatuh ke dalam praktik penipuan investasi palsu. Kegiatan penyuluhan sendiri tidak begitu berbeda dengan penyuluhan yang dillakukan di desa Argo Mulyo.

Para penduduk di sini diajarkan bahwa cukup dengan seratus ribu mereka sudah bisa berpartisipasi dalam bursa saham. Proses pendaftaran pun cukup dilakukan di kantor perangkat desa dengan bermodalkan identitas KTP, kartu keluarga, hingga bku rekening.

Di desa ini juga sudah tercatat ada 400 kepala keluarga yang menjadi investor saham aktif dengan kisah suksesnya masing-masing. Ada yang diberitakan pernah mendapat dividen atau pembagian laba saham sebesar 2,6 juta rupiah, adapula yang berhasil menangguk untung dari aksi jual beli saham layaknya pemain saham dari kalangan menengah keatas perkotaan. Tercatat, nilai saham yang diperoleh hingga Juli 2018, adalah sekitar 3.5 M rupiah.

Informasi dan Gambar diambil dari berbagai sumber.

Editor: Weliam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *