Menyambut Imlek Menyambut Toleransi Di Singkawang

Ramai perayaan imlek hampir dapat dirasakan di seluruh penjuru nusantara. Hari raya yang merupakan penanda dimulainya musim tani di negeri asalnya ini tampaknya sudah diadopsi sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan dari bangsa Indonesia.

Oleh karenanya pemandangan seribu lampion ataupun Barongsai merupakan hal yang jamak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia. Tidak terkecuali di Singkawang, sebuah kota di Provinsi Kalimantan Barat yang selalu bersolek menjelang perayaan imlek.

Singkawang Kota Toleransi

Singkawang merupakan salah satu kota di Indonesia dimana etnis Tionghoa menjadi salah satu penduduk terbanyak di dalamnya. Berdasarkan data kependudukan Badan Pusat Statistik yang terakhir diperbaharui tahun 2010, sekitar 40% dari total 186.462 merupakan etnis Tionghoa dan 25% nya merupakan penduduk dengan etnis Melayu.

Oleh karenanya tidak heran apabila perayaan hari raya bagi warga keturunan Tionghoa yaitu Imlek dan Cap Go Meh selalu dirayakan dengan meriah. Selain itu event-event perayaan imlek di Singkawang dapat dianggap sebagai salah satu atraksi wisata bagi pelancong domestik maupun mancanegara.

Meskipun begitu perayaan imlek di Singkawang tergolong salah satu perayaan yang penuh toleransi. Mengingat bahwa etnis Tionghoa hidup berdampingan dengan kelompok masyarakat lainnya, walikota Singkawang Tjui Tjian Mie selalu melibatkan adanya atraksi kebudayaan dari daerah dan kelompok etnis lain.

Seperti pada perayaan imlek 2019 ini, selain atraksi utama berupa barongsai dan pameran tatung atau atraksi memanggil roh, para pengunjung dapat menikmati atraksi seperti tarian Jawa, tari zapin Melayu. Meresapi setiap atraksi kebudayaan yang ditampilkan membuat pengunjung dapat larut dalam suasana parade kemerdekaan Indonesia saja.

Festival imlek yang melibatkan partisipasi multietnis ini menjadi salah satu faktor mengapa Singkawang dinilai sebagai kota paling toleran dalam indeks toleransi yang diadakan oleh Setara Institute pada tahun 2018 silam

Teladan bagi Tahun Politik

Melihat bagaimana beratnya penggunaan isu identitas dalam berbagai kesempatan pemilihan kepala daerah, Singkawang menjadi oase sejuk bagi keadaan toleransi terutama di tahun politik ini. Manuver politik dapat dengan mudah mengasosiasikan kelompok atau etnis tertentu sebagai kambing hitam membuat masyarakat mudah terpecah. Namun dengan komposisi masyarakat yang amat beragam, Singkawang membuktikan bahwa masih ada harapan terang untuk menjalin persaudaraan sesama anak negeri di tahun politik yang berpotensi menimbulkan konflik ini..

Informasi dan Gambar diambil dari berbagai sumber yang ada di Internet

Penulis: Weliam

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *