Mengenal Apa Itu Perhutanan Sosial

IndonesiaBetter- Secara faktual, Indonesia merupakan salah satu negara pemilik lahan hutan terbesar di dunia. Menurut data Kementerian Perhutanan serta data yang disarikan dari para lembaga pemantau perhutanan Indonesia, total luas vegetasi hutan di seluruh Indonesia mencapai 125 juta hektar yang menaungi jenis penggunaan hutan yang berbeda-beda yaitu sebagai hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi.

Berbeda dengan hutan lindung yang berfungsi untuk menahan cadangan karbon dunia, hutan produksi difungsikan sebagai aset ekonomis dengan persetujuan perizinan dari pemerintah.

Istilah hutan produksi sendiri baru dikenal pada sekitar tahun 1970 ketika Presiden Soeharto mengizinkan penggunaan hutan sebagai aset industrialisasi. Melalui Peraturan Pemerintah no. 21 tahun 1970, Alm. Presiden Kedua Soeharto mendorong eksploitasi hutan sebagai aset ekonomis dengan harapan imbal balik berupa pemasukan pajak bagi pemerintah dan pembukaan lapangan pekerjaan secara masif.

Umumnya pemilik dan pengguna izin hutan produksi adalah para pengusaha yang memiliki aset besar, khususnya pengusaha kelapa sawit. Seiring waktu kebijakan pemberian konsesi secara masif untuk pengusaha terutama pengusaha sawit ini membawa dampak sosial.

Salah satu dampak sosial yang dihasilkan adalah tergerusnya kesempatan masyarakat hutan setempat yang kehilangan hak esensial menikmati nilai ekonomis dari hutan tersebut. Banyak masyarakat yang harus berurusan dengan aparat akibat melakukan kegiatan ekonomi di wilayah hutan produksi. Kondisi tersebut dicoba diubah melalui kebijakan perhutanan sosial.

Hutan sebagai Tumpuan Pemerataan Ekonomi

Pelaksaan kebijakan perhutanan sosial diawali dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Perhutanan no 39 tahun 2017. Peraturan Menteri ini secara spesifik mengatur pengfungsian lahan hutan secara sosial dengan skema pengelolaan berbasis desa dan masyarakat.

Berdasarkan garis besar dari penerbitan peraturan menteri ini, hutan merupakan salah satu sumber kekayaan hayati Indonesia yang harus diberdayakan untuk tujuan kemakmuran rakyat. Melalui peraturan ini, masyarakat dapat mengajukan perizinan untuk mengelola hutan baik untuk kepentingan ekonomi desa, individu masyarakat, ataupun untuk pengusahaan tanaman rakyat.

Hasil implementasi dari penerbitan perizinan ini dapat dilihat di berbagai wilayah perhutanan yang selama ini identik dengan pengusahaan dan konversi lahan sawit. Contoh, di wilayah Kalimantan Timur dimana lahan perhutanan yang digunakan untuk kepentingan sosial sudah mencapai luas 103 ribu hektar.

Yang lebih menggembirakan, kebijakan ini juga turut mendorong partisipasi aktif dari para lembaga swadaya yang selama ini hanya melakukan advokasi terkait masalah perhutanan dan masyarakat untuk menjadi penggerak utama pengusahaan hutan bagi masyarakat setempat, seperti kebijakan pengusahaan izin penggunaan hutan adat oleh masyarakat Wehea yang dibantu oleh LSM The Nature Conservancy

Hari Kamis 7 Februari 2019 kemarin Pemerintah yang diwakili oleh Presiden Jokowi juga terlihat menjalankan agenda penyerahan izin penggunaan hutan sosial bagi masyarakat di Cianjur, dengan total penerima manfaat sebanyak 8.941 kepala keluarga dan luas hutan berizin sebanyak 13 ribu hektare.

Harapannya agar tanah digunakan secara produktif dan dapat bermanfaat bagi penghidupan warga penerima manfaat.

Harapan Terkait Perhutanan Sosial

Kedepannya Kementerian Perhutanan menargetkan untuk dapat memberikan total sekitar 20 juta hektare luas hutan yang dapat digunakan sebagai hutan sosial. Selain itu Kementerian Perhutanan dan Lingkungan Hidup juga berharap masyarakat dapat mengembangkan hutan produksi dengan orientasi ramah lingkungan dan ramah terhadap keanekaragaman hayati lainnya seperti perlindungan terhadap fauna endemik yang dilindungi.

Dengan perkembangan baik dari visi perhutanan sosial, diharapkan kondisi hutan indonesia dapat terus lestari, sementara memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat Indonesia. Kita berharap hutan di Indonesia akan terus subur demi Indonesia Yang Lebih Baik.

Informasi diambil dari berbagai sumber di internet.

Editor: Weliam

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.