Sertifikasi Asesor Pemandu Wisata Petualangan

Indonesiabetter.com Bekasi, 11 April 2018, Sektor Pariwisata memiliki perkembangan yang pesat di seluruh dunia termasuk di Indonesia, hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan, munculnya berbagai destinasi wisata baru, meningkatnya para profesional di bidang pariwisata dan sampai dengan meningkatnya penerimaan devisa negara dari kegiatan pariwisata.

Salah satu bagian dari sektor pariwisata yang juga mendukung perkembangannya adalah bidang wisata petualangan seperti wisata gunung, wisata arung jeram, wisata gua, wisata paralayang, wisata panjat tebing dan outbond .

Wisata petualangan kini semakin ramai digeluti oleh seluruh lapisan masyarakat baik dari wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Perkembangan wisata petualangan juga diikuti oleh meningkatnya kebutuhan industri wisata petualangan baik bidang jasa wisata maupun produk peralatan wisata petualangan.

Berbagai usaha peningkatan kualitas kegiatan wisata petualangan di Indonesia terus dilakukan, yang utamanya adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu pemandu wisata petualangan itu sendiri sebagai ujung tombak dalam perjalanan wisata.

Program Pengembangan SDM dilakukan melalui proses Sertifikasi Kompetensi yang mengacu kepada standar sertifikasi profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para pemandu wisata petualangan di Indonesia.

Dalam pelaksanaannya program ini difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata dan dilaksanakan melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), dalam hal ini bekerja sama dengan LSP Pramindo(Pramuwisata Indonesia). Untuk wisata petualangan saat ini yang tercatat sudah melakukan sertifikasi profesi adalah pemandu gunung di bawah koordinasi Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), pemandu gua di bawah koordinasi Asosiasi Wisata Gua (ASTAGA) dan Arung Jeram di bawah koordinasi Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI).

Di bidang lain yang erat kedekatannya dengan wisata petualangan dan sudah melakukan sertifikasi adalah pemandu outbond di bawah koordinasi Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI). Sementara itu untuk wisata paralayang di bawah koordinasi Asosiasi Pilot Tandem dan Instruktur Paralayang Indonesia (APTIPI) pada tahun ini sedang dalam penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan untuk wisata panjat tebing telah memiliki SKKNI, namun belum pernah melaksanakan sertifikasi profesi karena belum masuk dalam skema sertifikasi sesuai aturan BNSP, untuk itu saat ini wisata panjat tebing di bawah koordinasi Federasi Panjat Tebing Indonesia(FPTI) sedang melakukan pendekatan ke Lembaga Sertifikasi Profesi agar dapat dibukakan skema wisata panjat tebing.

Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi harus dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran agar dapat terjaga kualitas sertifikasi. Salah satu komponen yang berperan penting dalam proses sertifikasi tersebut adalah Asesor. Asesor merupakan orang yang bertugas melakukan penilaian secara sistematis dalam proses uji kompetensi dengan cara mengumpulkan bukti-bukti kompetensi seseorang yang kemudian dibandingkan berdasarkan acuan SKKNI. Penilaian asesor bersifat rekomendasi terkait kompeten atau belum kompeten nya seseorang dalam suatu profesi, yang kemudian hasil tersebut diverifikasi kembali oleh LSP dan BNSP untuk menentukan hasil akhir dari proses sertifikasi seseorang.

Untuk itu dalam rangka mendukung percepatan pengembangan SDM pariwisata, Kementerian Pariwisata selain menfasilitasi Sertifikasi Kompetensi juga memfasilitasi Pelatihan Asesor Kompetensi (Workplace Assesmen/WPA), kali ini WPA dilaksanakan di Bekasi , yaitu Hotel Horison Bekasi pada tanggal 5-10 April 2018.

Acara dibuka oleh Bapak Wisnu Bawa Tarunajaya, selaku Asdep Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antar Lembaga Kepariwisataan. Dalam sambutannya ia mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka menyiapkan SDM Pariwisata di Indonesia agar berkualitas kompetensinya dari sisi pengetahuan, keterampilan dan sikap serta siap dalam rangka mendukung target pemerintah mendatangkan 20 juta wisatawan mancanagera tahun 2019. Ia berpesan agar seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias, sungguh-sungguh dan yang tidak kalah penting untuk memegang teguh salah satu prinsip sertifikasi kompetensi kerja yaitu keberterimaan (accepatable) artinya bahwa jika dalam proses pelatihan ada sesuatu yang mengganjal dan memberatkan terima dengan lapang dadang, tidak usah protes dan jalani proses belajarnya dengan senang hati.

Adapun kegiatan ini diikuti oleh 48 peserta dari berbagai industri yaitu industri wisata petualangan, ekowisata, industri spa, industri tour leader dan industri perhotelan. Industri wisata petualangan menyumbang peserta terbanyak yaitu sebanyak 28 orang.

Pelatihan yang diselenggarakan selama 4 hari untuk pembekalan dan 2 hari untuk ujian ini, diikuti dengan sangat baik oleh seluruh peserta, walaupun harus bersusah payah dengan proses pemberkasan tugas yang menumpuk, namun dengan semangat pantang menyerah dan saling kerjasama seluruh proses pelatihan dapat diikuti dengan baik oleh seluruh peserta.

Tercatat, 42 peserta berhasil dinyatakan lulus kompeten pada hari pertama ujian 9 April 2018 dan 6 peserta terakhir dengan perjuangan yang tidak kenal menyerah berhasil menyelesaikan ujian di hari kedua serta dinyatakan lulus kompeten. Keberhasilan ini disambut dengan suka cita oleh seluruh peserta dan juga para pihak terkait.

Dengan bertambahnya jumlah asesor, berarti semakin siap juga untuk terus meningkatkan pelaksanaan sertifikasi kompetensi para pemandu wisata petualangan di Indonesia, hal ini tentu juga menambah gairah baru bagi perkembangan industri wisata petualangan di Indonesia agar terus lebih berkembang dan bersaing dengan industri lainnya baik di tingkat nasional maupun internasional. (RM)

Pers Release by : Rahman Mukhlis.

(Sekretaris Umum APGI/Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia)